Halaman
21 Maret 2026
Pagi Lebaran
19 Maret 2026
Maafkanlah di Hari Kemenangan
Kuhadirkan senyum dan ucapan suci
Maafkanlah segala salah dan ucapanku
Apabila pernah menggores perasaan
Lebaran datang dengan kedamaian
Menghapus bayang kesalahan di masa lalu
Kuberikan tangan dengan hati yang tulus
Untuk merawat tali silaturahmi yang abadi
Air mata tak bisa menghapus luka lama
Namun doa dan cinta bisa menyembuhkan rasa
Semoga rahmat Allah menyertai kita semua
Dalam langkah baru yang penuh kasih sayang
Idul Fitri bukan hanya hari berkumpul
Melainkan saat untuk memaafkan dan meminta maaf
Mari kita jaga hubungan yang indah dan mulia
Dengan hati yang bersih dan jiwa yang suci
Gemerlap Dunia
Jangan terpedaya gemerlap dunia
Yang membuat manusia saling membanggakan
Hari ini dipuji dan diagungkan
Esok bisa hilang tak dikenang
Bermegah bukan jalan kemuliaan
Tawadhu’ lebih tinggi nilainya
Karena Allah melihat hati
Bukan kemewahan yang dipamerkan manusia
Seperti embun yang jatuh perlahan
Ia bening, sederhana, namun menyejukkan
Begitu pula hati yang ikhlas
Menyinari tanpa perlu disanjung manusia
Dan bila langkah terasa berat
Ingatlah hidup hanyalah sementara
Kemuliaan sejati ada di akhirat
Bagi mereka yang rendah hati dan sabar
---
Bermegah-megah: Qs. Al-Hadid: 20-21
Memperbanyak dunia: Qs. At-Takatsur: 1
16 Maret 2026
Manfaat Sholat Sunnah Fajar
Sholat sunnah fajar adalah dua rakaat sebelum Subuh yang sangat dijaga oleh Rasulullah ﷺ. Meski hanya dua rakaat, keutamaannya luar biasa. Beliau bersabda: “Dua rakaat sholat sunnah fajar lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim).
Dalil dan Hadits
Aisyah r.a. menuturkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkan sholat sunnah fajar, baik ketika beliau sedang di rumah maupun dalam perjalanan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya ibadah ringan ini.
15 Maret 2026
Cerita Tentang Sedekah Perhiasan
Bu Rina bekerja sebagai guru bahasa Indonesia di sebuah SDN di pinggiran kota. Gajinya tidak seberapa, namun ia selalu berusaha menata hidupnya dengan sederhana. Setiap pagi, sebelum mengajar, ia selalu menatap jam weker yang menempel di dinding kamarnya, mengingatkan diri akan janji-janji yang belum selesai: menabung untuk pendidikan anaknya, merawat orang tua yang sudah lanjut usia, dan satu lagi—menyentuh hati orang lain dengan sesuatu yang lebih dari sekadar kata.




